Selasa, 19 April 2011

model model PTK




BAB I
Pendahuluan
A.Latar Belakang
Untuk melakukan Penelitian Tindak Kelas (PTK),terlebih dahulu dikemukakan model-model atau desain-desain penelitian tindakan yang selama ini digunakan. Hal ini dimaksudkan agar wawasan kita menjadi lebih luas  dan dengan mengetahui berbagai design model penelitian tindakan kelas, design yang dikebangkan akan menjadi lebih jelas dan terarah.
Pada prinsipnya diterapkan PTK  dimaksudkan untuk mengatasi suatu permasalahan yang terdapat didalam kelas. Ada  beberapa model atau design yang dapat diterapkan. Design-design tersebut diantaranya : 1). Model Kurt Lewin, 2). Model Kemmis  Mc Taggart, 3). Model John Elliot, 4). Model Dave Ebbutt
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada rumusan masalah sebagai berikut:
1Bagaimana identifikasi model  PTK Kurt Lewin?
2.Bagaimana identifikasi model  PTK  Kemmis dan Mc Taggart?
3.Bagaimana identifikasi model  PTK John Elliott?
4. Bagaimana identifikasi model  PTK Dave Ebbutt?
C.Tujuan Pembelajaran
1.Untuk mengetahui identifikasi model  PTK Kurt Lewin.
2. Untuk mengetahui  identifikasi model  PTK Mcel Kemmis dan Mc Taggart.
3. Untuk mengetahui identifikasi model  PTK John Elliott.
4. Untuk mengetahui identifikasi model  PTK Dave Ebbutt
BAB II
Pembahasan

 A. Model PTK Kurt Lewin
Model Kurt Lewin menjadi acuan pokok atau dasar dari adanya berbagai model penelitian tindakan yang lain, khususnya PTK. Dikatakan demikian, karena dialah yang pertama kali memperkenalkan Action Research atau penelitian tindakan.
Konsep pokok penelitian tindakan Model Kurt Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu ; a) perencanaan (planning), b) tindakan (acting), c) pengamatan (observing), dan d) refleksi (reflecting). Hubungan keempat komponen tersebut dipandang sebagai siklus yang dapat digambarkan sebagai berikut :
Acting/tindakan

Planning /perencanaan                           Observating/observasi

Reflecting/refleksi
[1]Pertama,menyusun perencanaan(planning),Pada tahap ini kegiatan yang harus dilakukan adalah membuat rpp,mempersiapkan fasilitas dari sarana pendukung yang diperlukan dikelas,mempersiapkan instrument untuk merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan.
Kedua,melaksanakan tindakan(acting).Pada tahap ini peneliti melakukan tindakan tindakan yang telah dirumuskan dalam rpp, dalam situasi yang actual,yang meliputi kegiatan awal,inti dan penutup.
Ketiga melaksanakan pengamatan (observing)pada tahap ini yang harus dilaksanakan adalah,mengamati perilaku siswa siswi yang sedang mengikuti kegiatan pembelajaran.Memantau kegiatan diskusi atau kerja sama antar  kelompok mengamati pemahaman tiap tiap siswa dalam penguasaan materi pembelajaran, yang telah dirancang sesuai dengan PTK.
Keempat melakukan refleksi (reflecting) pada tahap ini yang harus dilakukan adalah mencatat hasil observasi, mengevaluasi hasil observasi,menganalisis hasil pembelajaran,mencatat kelemahan kelemahan untuk dijadikan bahan penyusunan rancangan siklus berikutnya.sampai  tujuan PTK tercapai.
B. Model PTK Kemmis dan Mc. Taggart
 Model yang dikembangkan oleh Stephen Kemmis dan Robin Mc. Taggart  tidak terlalu berbeda dengan model Kurt Lewin. Dikatakan demikian karena di dalam satu siklus atau putaran terdiri atas empat komponen seperti yang dilaksanakan Lewin.
Sesudah satu siklus selesai diimplementasikan, khususnya sesudah ada refleksi, diikuti dengan adanya perencanaan ulang yang dilaksanakan dalam bentuk siklus tersendiri. Demikian seterusnya atau dengan beberapa kali siklus.


Secara keseluruhan,empat tahapan dalam PTK tersebut membentuk suatu siklus PTK yang digambarkan dalam bentuk spiral. [2]Pada hakekatnya langkah-langkah PTK model Kemmis dan Taggart berupa siklus dengan setiap siklus terdiri dari empat komponen yaitu perencanaan, pelaksanaan (tindakan), pengamatan (observasi), dan refleksi yang dipandang sebagai satu siklus. Banyaknya siklus dalam PTK tergantung dari permasalahan-permasalahan yang perlu dipecahkan. Pada umumnya terjadi lebih dari satu siklus. PTK yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh para guru di sekolah saat ini pada umumnya berdasarkan model PTK Kemmis dan McTaggart ini.

C. Model PTK John Elliot
Apabila dibandingkan dua model yang sudah diutarakan di atas, yaitu Model Kurt Lewin dan Kemmis-McTaggart, PTK Model John Elliot ini tampak lebih detail dan rinci. Dikatakan demikian, karena di dalam setiap siklus dimungkinkan terdiri dari beberapa aksi yaitu antara 3-5 aksi (tindakan).

Sementara itu, setiap aksi kemungkinan terdiri dari beberapa langkah, yang  terealisasi dalam  bentuk  kegiatan belajar-mengajar. Maksud disusunnya secara terinci pada PTK Model John Elliot ini, supaya terdapat kelancaran  yang  lebih tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanan aksi atau proses belajar-mengajar.
 Selanjutnya, dijelaskan pula olehnya bahwa terincinya setiap aksi atau tindakan sehingga menjadi beberapa langkah oleh karena suatu pelajaran terdiri dari beberapa subpokok bahasan atau materi pelajaran. Di dalam kenyataan  praktik di lapangan setiap pokok bahasan biasanya tidak akan dapat diselesaikan dalam satu langkah, tetapi akan diselesaikan dalam beberapa  hal tersebut  itulah  yang  menyebabkan John Elliot menyusun model PTK yang berbeda  secara  skematis  dengan  kedua  model sebelumnya.

D.Model PTK Dave Ebbutt
Dave Ebbutt  berpendapat bahwa model-model PTK yang ada seperti yang diperkenalkan oleh John Elliot, Kemmis dan Mc Taggart, dan sebagainya dipandang sudah cukup bagus. Akan tetapi, dalam model-model tersebut masih ada beberapa hal atau bagian yang belum tepat sehingga masih perlu dibenahi.
Pada dasarnya  Ebbutt  setujuh  dengan  gagasan-gagasan yang diutarakan oleh Kemmis dan Elliot tetapi tidak setuju mengenai beberapa interprestasi Elliot mengenai karya Kemmis. Selanjutnya Ebbutt  mengatakan bahwa bentuk spiral yang  dilakukan  oleh Kemmis dan Mc Taggart bukan merupakan cara  yang terbaik untuk menggambarkan proses aksi refleksi (actionreflection).
Dimulai dengan pemikiran awal penelitian yang berupa pemikiran tentang  masalah yang  dihadapi di dalam kelas, penentuan fokus permasalahan
Dari pemikiran  awal dilanjutkan dengan  reconnaissance (pemantauan), pada bagian  reconnaissance ini Ebbutt berpendapat berbeda dengan penafsiran  Elliot mengenai reconnaissance-nya Kemmis, yang seakan-akan hanya berkaitan dengan penemuan fakta saja(fact finding only). Padahal, menurut Ebbutt reconnaissance mencakup kegiatan-kegiatan diskusi, negosiasi, menyelidiki kesempatan, mengakses kemungkinan dan  kendala atau mencakup secara keseluruhan analisis yang dilakukan.

Berdasarkan pemikiran awal dan reconnaissance kemudian dilanjutkan dengan menyusun perencanaan dan berturut-turut dengan kegiatan  pelaksanaan tindakan yang pertama, pengawasan dan pelaksanaan reconnaissance, dan melanjutkan pelaksanaan tindakan kedua.
 Pada siklus yang digambarkan oleh Ebbutt, dia memberikan pemikiran bahwa jika dalam reconnaissance setelah  tindakan ada masalah mendasar yang dialami, maka perlu perubahan perencanaan pelaksanaan  dan kembali melaksanakan bagian siklus tertentu yang telah dijalani.
Bahkan tidak menutup kemungkinan pada pelaksanaan pengawasan dan reconnaissance dilakukan perubahan pemikiran yang mengakibatkan seorang peneliti kembali mengevaluasi pemikiran awal dan fokus penelitian yang dijalankan. 
[3]Menurut  Ebbutt, cara yang tepat untuk memahami proses penelitian tindakan ialah dengan memikirkannya sebagai suatu seri dari siklus yang berturut-turut, dengan setiap siklus mencakup kemungkinan masukan balik informasi di dalam dan di antara siklus. Deskripsi ini mungkin tidak begitu rapih dibandingkan dengan membayangkan proses itu sebagai spiral.



BAB III
Penutup

A.Kesimpulan
Dari desain yang dilukiskan di atas tampak bahwa penelitian kelas merupakan proses perbaikan secara terus menerus dari suatu tindakan yang masih mengandung kelemahan sebagaimana hasil refleksi menuju ke arah yang semakin sempurna.
(1) perencanaan,
 (2) pelaksanaan,
 (3) pengamatan (observasi), dan
(4).refleksi
Untuk mengatasi suatu masalah,mungkin diperlukan lebih dari satu siklus.Siklus siklus tersebut saling terkait dan berkelanjutan.Siklus kedua dilakukan apa bila masih ada hal hal yang kurang berhasil pada siklus pertama.Siklus ketiga dilakukan karena siklus kedua belum mengatasi masalah,begitu juga siklus siklus berikutnya.







Daftar Pustaka
Modul Penelitian Tindak Kelas,Paket 5.
Suladin,Bosrowi,Suranto,Manajemen Penelitian Tindak Kelas.Insan cendekia,2002.
Wiriaatmadja,Rochiati,Metode Penelitian Tindakan  Kelas.PT Remaja Rosdakarya,2005.
http://suhadinet.wordpress.com/2009/06/08/langkah-langkah-ptk-menurut-kemmis-dan-mctaggart/
http://www.duniaedukasi.net/2010/10/model-model-desain-penelitian-tindakan.html




[1] Modul PTK,Paket 5 hal 5-13
[2] http://suhadinet.wordpress.com/2009/06/08/langkah-langkah-ptk-menurut-kemmis-dan-mctaggart/

[3] Rochiati Wiriaatmadja,Metode Penelitian Tindakan Kelas, hal 68

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ainun ma'rifah